Istimewa

Quotes of the day

“If you do what you’ve always done, you’ll get what you’ve always gotten” -Tony Robbins-

Iklan

Pilihlah Dunhill Blue

Ketika umurnya beranjak 24 tahun, Ia tidaklah seperti laki-laki lainnya yang menghabiskan banyak waktu diluar. Menyendiri sendiri dikamar, tak tau apapun tentang sekitarnya. Ia pernah bercerita tentang bagaimana damainya saat sendiri. Dalam sendiri hanya ada diri sendiri, Ia bisa bercerita banyak tentang hal-hal diluar sana. Imajinasi membimbing penuh harap. Imajinasi begitu bebas menyentuh apa saja.

Untuk urusan perempuan ia hanya mampu sekedar kenal. Berbincang apa adanya. Dia pernah bertemu dengan perempuan tanpa sengaja. Bertanya tentang siapa dan dimana, lalu cukup. Beberapa momen penting ia menyempatkan memberi salam sekedarnya. Beberapa bulan kemudian ia mendapatkan pesan tentang banyak tanya. gadis itu menanyakan banyak hal. Tetapi ia tetaplah laki-laki yang tak pandai memberi jawaban. Berbicara banyak hal, lalu mereka begitu dekat dan sangat dekat.

Sampai suatu ketika, mereka berbicara selayaknya seorang kasmaran. Bicara tentang apa yang terjadi kemarin dan hal-hal yang akan datang. Semuanya mengalir tanpa sebab-sebab biasa. Ia sebagai lelaki biasa, akhirnya jatuh cinta. Ia tak butuh lama untuk sebuah perkenalan. Ia mebaranikan diri tuk menjelaskan apa yang dirasakan. Perlahan memberi tanya tentang perasaan dan fikiran yang begitu indah. “ saya hanya ingin kita bisa lebih dari sekedar teman, terserah itu pacaran atau apalah”. Ia menunggu sekitar sejam lebih untuk mendapatkan jawaban dari gadis itu. Tiba-tiba gadis itu membalas “iya”. Benar bahwa itu terjawab, “saya ingin lebih dari sekedar teman”, gadis itu menjawab “iya”. Sungguh imajinasi itu begitu nyata saat itu.

Setelah itu, ia tak lagi berlama-lama menyendiri. Dia mengunjungi pantai. Nikmat alam yang begitu terlihat luas. Ramai tapi menenangkan. Tidak hanya itu, dia mengunjungi wisata alam lainnya. Bebas katanya. Dia merasakan kebebasan apa yang tak seakurat bayang-bayang dalam sendiri.Begitu banyak rindu tentang setiap peristiwa, jarak begitu jauh, salah mengerti tentang sebab-sebab. Ia pun berpisah dengan gadis tersebut.

Kau tau….mana ada perempuan yang ingin menerima salah yang berulang-ulang? Mereka berpisah. Jarak membuat ia tak mampu banyak memberi keyakinan. Perempuan sesekali diam dan sekali menjawab. Ia tak begitu meyakinkan untuk sekedar meminta kesempatan dari gadis tersebut. Ia berfikir semua hal bisa diperbaiki kembali. Tapi tidak ada yang mudah untuk menjadi baik. Semua kesempatan harus memberi pelajaran yang begitu panjang.

Ia kembali kekamarnya, berdiam begitu lama. Gelisah dan menyesal. Kecewa karena tak pernah sadar tentang salahnya selama ini. Perasaan bersalah menjadi imajinasi yang baru baginya. Ia begitu sepi saat itu, setelah itu segalanya berubah. Sendiri ternyata tak sebebas apa yang ia pikir. Sepi membelenggu setiap ingatan-ingatan. Harapan untuk semuanya telah hilang. Ia bersalah dan kecewa dengan dirinya sendiri. Umur yang masih 24 tahun, Ia masih saja tak punya keahlian untuk bisa bebas.

 

 

 

DUNHILL BLUE

Jika ada hari yang sama

Biarlah ku tetap jadi yang kemarin

Kemarin begitu biasa-biasa

Kata-kata selalu terbalaskan

 

Hari ini kurasai begitu sulit

pengatahuanku tak cukup menolong

hari ini begitu lama

sisahkan sesal yang ku tanggung

 

esok adalah pengharapan

kita coba beberapa cara

mungkin hasilkan sesuatu

ku pikir itu akan baik

 

wangimu masih terjaga disini

tersimpan rapih dalam benak

tak mungkin hilang

tak mungkin terlupakan

 

kemarin masih kurasakan itu

hari ini coba sekali

tak pernah ragu merasakannya esok

seterusnya akan selalu begitu…membekas wangimu

 

berbahagialah

pilihlah jalan yang mudah

jangan terusik

tetaplah bahagia

 

 

 

Seni Hidup Dari Seorang Pianist

szpilman_am_piano1948
Foto: Wladyslaw Spilzman

Penulis akan menceritakan kembali bagian dari kehidupan seorang Wladyslaw Spilzman dimasa invasi Nazi Jerman ke Polandia.  Wladyslaw Spilzman adalah seorang pianist Yahudi Polandia. Dimasa ini kaum Yahudi mengalami tekanan yang luar biasa. Spilzman bersama keluarganya sangat dibatasi dalam melakukan aktivitas-aktivitas diluar rumah, dibatasi memiliki sejumlah uang dan makanan.

 

Wladyslaw Spilzman dikonsentrasikan ketempat – tempat terpencil, dengan dalih untuk menghindari peperangan. Tetapi hal ini merupakan upaya penyaringan tentara Nazi terhadap kaum Yahudi. Spilzman diharuskan  bertahan  hidup sendiri dengan menjalani kerja paksa bersama kaum Yahudi lainnya. Teror, kekejaman, kelaparan dan kematian terjadi dimana –mana. Saat itualah Spilzman berpisah dengan keluarganya. Beruntung Spilzman bertemu temannya sesama seniman (seniman yang berkebangsaan Jerman) yang akhirnya membantu Spilzman untuk bersembunyi dari kejaran tentara Nazi.

Dalam persembunyian ini Spilzman hampir mengalami kematian karena sakit dan kelaparan. Sampai akhirnya Spilzman harus bertahan hidup sendiri karena tidak ada lagi orang yang melindungi hidupnya, karena teman musisinyanya tersebut juga harus mengungsi untuk melindungi anaknya dari peperangan. Spilzman keluar dari persembunyiannya, berpindah-pindah dari satu bangunan ke bangunan lain untuk mencari sisa-sisa makanan. Rasa kesepian dan kehilangan sangat di rasakan Spilzman saat itu.

Spilzman beruntung hidupnya diselamatkan seorang perwira Jerman yaitu Kapten Wilm Hosenfeld. Kapten Wilm Hosenfeld menemukan Spilzman dalam persembunyiannya dibalik reruntuhan gedung. Spilzman kemudian diinterogasi, dalam interogasi tersebut Spilzman mengaku bahwa dirinya adalah seorang yahudi yang sedang bersembunyi. Kapten  Wilm Hosenfield lalu menanyakan profesi dari Spilzman tersebut. Spilzman menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang pianist (pemain alat musik piano). Kapten Hosenfield tidak percaya begitu saja, lalu dimintalah Spilzman memainkan sebuah lagu menggunakan alat musik piano. Spilzman yang ketakutan akhirnya memainkan sebuah piano, sedangkan kapten Hosenfield mendengar permainan piano dari Spilzman dengan terdiam sembari membenarkan posisi duduknya. Kapten Hosenfield menikmati bunyi hasil dari permainan irama yang dimainkan oleh Spilzman lewat sebuah piano.

Dari kisah pertemuan antara Kapten Hosenfield dengan Spilzman tersebut, membuat Kapten Hosenfield membiarkan Spilzman tetap aman bersembunyi dan juga tetap hidup.  Kemampuan Spilzman dalam memaminkan alat musik piano akhirnya mampu menggugah hati sang kapten Hosenfield. Tiap harinya Spilzman diberikan makan secara sembunyi oleh kapten Hosenfield. Hingga pada akhirnya Tentara Jerman mengundurkan diri karena daerah Polandia saat itu telah dikuasai oleh Tentara Soviet (Rusia). Hadirnya tentara Soviet tesebut menandai akhir dari peperangan antara Nazi dan Yahudi di wilayah Polandia. Hal ini menjadi kabar bahagia bagi seorang pianist.

Dari penggalan cerita dari seorang Spilzman yang merupakan seorang pianist yang pandai memainkan sebuah alat musik dengan nada-nada indahnya, akhirnya mampu menjadi penyelamat hidupnya dari sebuah peristiwa tragis bernama kematian. Kemampuan seorang kapten Hosenfield mengenali sebuah keindahan hasil dari seni musik seperti piano adalah cerita kelanjutan hidup seorang pianist ternama yang cukup melegenda bernama Wladyslaw Spilzman.

Seni membuat Spilzman tetap hidup sedangkan kapten Hosenfield merupakan seseorang yang mampu melihat musik itu seketika menjadi hidup dan nyata. Dalam kisah ini mengajarkan kita kembali bahwa tiap individu diharuskan mampu survive (mempertahankan hidup). Hidup adalah sebuah politik, sedangkan dari kesemuanya adalah merupakan seni. Hidup dan politik adalah sebuah seni. Memilih untuk tetap hidup adalah merupakan sebuah seni.

Seni tidak hanya sekedar abstraksi dari tiap-tiap pensil, kuas dan cat atau bahkan seni tidak hanya sekedar bunyi atau gerak abstraksi semata. Semua seniman ingin melihat suatu abstrak menjadi hidup. Bisa dirasakan bagi setiap manusia lainnya. Individu yang satu diharuskan mampu memiliki hidup yang baik, sedangkan pada waktu yang bersamaan, Individu tersebut diharuskan mampu memahami kehidupan manusia lainnya.

Catatan: Tulisan ini merupakan hasil resume penulis setelah menonton film “The Pianist Tahun 2002”.

 

Belajarlah dari Ratu Elizabeth tentang arti sebuah kesetiaan

Gambar Lukisan Ratu Elizabeth I

Penggalan cerita tentang Ratu Elizabeth I termasuk salah satu dari momen-momen paling penuh intrik dalam sejarah Inggris.

Sebelum masa kepemimpinan ratu elizabeth, kerajaan england dipimpin oleh kakak tirinya yaitu queen mary.

Quenn mary adalah ratu yang dikenal dengan ketegasannya selama ia menjadi seorang pemimpin, meskipun ia adalah seorang perempuan, tetapi tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak menghormatinya.

Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama karena penyakit kanker rahim yang dia derita sejak lama, sehingga queen mary meninggal sebelum ia memiliki anak kandung.

Kematian queen mary sungguh membuat semua orang berduka, sekaligus membuat pihak istana segera mencari pengganti sang ratu. Tetapi bukan hal yang mudah untuk menemukan hal teraebut. Karena kerajaan sendiri memiliki peraturan yang harus tetap ditaati. Orang yang kelak menggantikan queen mary sejatinya memiliki hubungan darah langsung dari penguasa sebelumnya.

Saat itu yang hanya memiliki hubungan darah langsung dari queen marry adalah elizabeth. Namun elizabeth adalah orang yang tertuduh yang dianggap berusaha menggulingkan kepemimpinan queen mary saat itu.Elizabeth pun mendekam dan merasakan dinginnya penjara kerajaan. 

Sepeninggalan ayahnya yaitu raja henry VIII, queen mary menjadi seorang ratu yang juga dikenal taat kepada keyakinan katolik sedangkan elizabeth yang merupakan anak dari istri ke 2 raja henry VIII, besar dan belajar dikalangan protestan.perbedaan inilah yang memicu pihak kerajaan yang menganggap bahwa elizabeth tidak pantas menggantikan queen mary karena perbedaan keyakinan.

Tetapi karena alasan kekosongan kepimimpinan ini, maka pihak kerajaan mengeluarkannya dari penjara dan mengangkatnya menjadi seorang pewaris dari tahta kerajaan inggris. 

Queen elizabeth pada masa awal kepemimpinannya menganggap perang bukanlah sikap dari seorang manusia dan kemudian queen elizabeth membuat undang-undang tentang keselarasan hidup, dimana pihak yang berbeda keyakinan bisa hidup rukun dan damai dengan hanya adanya satu pemimpin. Pemimpin itu adalah queen elizabeth.

Dalam perjalanan hidupnya, Queen Elizabeth berusaha untuk bisa menghadapi berbagai intrik dan konspirasi tingkat tinggi agar tetap bisa mempertahankan tahtanya. Mulai dari perjodohan yang disarankan oleh penasehatnya agar dia bisa menjamin tahtanya.  Padahal dibalik itu semua, Elizabeth memiliki hubungan gelap dengan kekasihnya yaitu Robert Dudley.

Dalam masa kepemimpinannya, Queen Elizabeth banyak mendapatkan perlawanan dan penghianatan termasuk sang kekasihnya itu, Robert dudley pun dianggap sebagai penghianat. Lalu semua penghianat dibunuh tetapi saat robert dudley hendak di eksekusi, queen elizabeth memberikan hak kepadanya untuk tetap hidup, agar queen elizabeth mengingat bahwa penghianatan sangatlah dekat dengan dirinya.

Maka dari peristiwa-peristiwa besar yang menghampirinya, membuat queen elizabeth berkayinan untuk tidak menikah dengan siapapun. 

Dalam sejarahnya, janji dan kesetiaanya hanya untuk  inggris dan rakyatnya. Ia pun menggunakan cincin pernikahan dan menunjukkannya kepada pihak kerajaan dan kesemua rakyatnya bahwa ia telah mengikat janji dalam pernikahan suci, ia menikah dengan bangsa dan negaranya sendiri yaitu “england”

Salah satu peristiwa bagaimana peradaban besar lahir dari tangan seorang perempuan yang memilih jasmani dan rohaninya hanya untuk inggris.

Queen Elizabeth I (7 September 1533 – 24 Maret 1603) adalah ratu Kerajaan Inggris dan Irlandia dari 17 November 1558 hingga kematiannya. Ia kadang-kadang dijuluki “The Virgin Queen” (Ratu Perawan), “Gloriana”, atau “Good Queen Bess”. 

Elizabeth adalah monarki kelima dan terakhir dari Dinasti Tudor. Ia merupakan putri dari Henry VIII dan Anne Boleyn, namun ibunya dihukum mati dua setengah tahun setelah kelahirannya,  Saudara tirinya, Edward VI, menjadi raja hingga kematiannya pada tahun 1553.
Luwu Utara, 6 agustus 2016

Kukenali pemuda itu

           sumpah-pemuda

           Banyak harapan yang selalu hadir pada diri seorang pemuda, pemuda adalah penerus masa depan yang sudah terlatih dimasa silam, selalu ada duka dan bahagia yang menjadi cerita indah disetiap titik mereka menghela nafas lalu kemudian berhenti di satu titik lalu kembali mengingat impian untuk masa depannya. Begitulah laku seorang pemuda, akan ada saja yang dia ingat dimasa depannya tentang titik dimana mereka dulu pernah beristirahat sejenak dan kembali mengukur hari yang esok.

      Saya melihat pemuda menjelma sebagai pioner-pioner yang selalu bergerak dan bertahan lalu kemudian bergerak, ada kehendak untuk tetap bertahan hidup hanya semata-mata ingin tetap disebut manusia, karena sesungguhnya kehidupan mereka adalah investasi untuk keluarga, Negara dan dirinya sendiri.

            Rasa-rasanya terlalu rumit untuk kita berangan-angan untuk masa depan yang baik tanpa kehadiran seorang pemuda yang hadir dengan fikiran konstruktifnya, tak ada yang salah memang ketika kita biasa mendengar bahwa ditangan pemudalah bangsa ini tetap ada dan berbenah.

            Tapi seberapapun dan bagaimanapun kita mengiidolakan seorang pemuda tetap saja harus melihat realitas kekinian di negeri ini, tak jarang anak muda tergeletak di pinggiran jalan tanpa sedikitpun nafas, mungkin karena kelelahan mencari sesuap nasi­ untuk hidup esok harinya atau “keluarganya” sendirilah yang sadar atau tidak sadar telah mencuri haknya untuk hidup, Negara terkadang menjadi momok menakutkan untuk anak muda agar tetap hidup lama di negaranya sendiri, lihatlah lapangan pekerjaan yang terisolasi oleh kepentingan, banyaknya cikal bakal pemuda “dilarang” bersekolah oleh “sekitarnya”. Tak apa lagi jika menjenguk pemuda-pemuda yang ada di nusa kambangan sana.

               Gejolak inilah yang mestinya menjadi perhatian kita semua, terkhusus bagi orang-orang yang pernah disapa pemuda dizamannya. Sayangnya jarang kita lihat yang masih menyimpan hasrat untuk berbenah dan bertanggungjawab. Mereka pikir ini guyonan bahwa mereka sudah terlampau berusaha tapi nyatanya duduk diam diri saja. Kita perlu nasihat dan petuah dari siapa-siapa saja yang masih ada.

         Pemerintah yang acuh mengakui para pemuda menjadi asset ibu pertiwi telah menjadi sebuah ritual untuk melanggengkan pemerintah tanpa estapet. Amatilah berita di televisi, Koran, dan media informasi lainnya bagaimana pemuda hilang harapan dimana-mana, tatkala cita-cita dibenturkan pada kehendak pemerintah yang dzolim.

           Kenapa harus menuduh pemerintah itu dzolim? Lihatlah kemiskinan,lapangan pekerjaan, kebutuhan untuk tahu melaluai pendidikan yang layak, apakah kesemuanya berlebihan untuk sebuah alasan, begitulah kenapa pemuda harus berhenti di satu titik dan  beristirahat hanya untuk kembali mengukur cita-citanya dimasa yang akan datang, karena mereka sadar pemuda sebelumnya terlampau banyak yang acuh karena kehendak dzolim dari pemerintah yang mengabaikan harapan dan peluang dari mereka untuk hidup lebih baik, bekerja dengan sepantasnya untuk rezeki, belajar matimatika dikelas dengan guru terbaik.

            Meskipun tidak semua pemangku kebijakan itu dzolim kepada mereka, karena masih ada sedikit yang rela mati-matian menghargai dan sadar akan pentingnya seorang anak muda/ pemuda.

25 juli 2016, Luwu Utara

Born on this day : june 21

Berikut adalah nama-nama tokoh besar dunia yang lahir pada tanggal 21 Juni:

1839: Joaquim Maria Machado de Assis, sosok yang paling dihormati dalam literatur Brasil dan pendiri sekaligus presiden pertama Brazilian Academy of Letters.

1850: “Uncle Dan” Beard, penulis The American Boys’ Handy Book dan pendiri kelompok yang menjadi Boy Scouts of America.

1892: Reinhold Niebuhr, salah satu teolog Protestan Amerika abad ke-20 yang terkemuka, yang tidak hanya mempengaruhi lingkaran teologis tetapi membentuk kembali banyak pemikiran Amerika tentang masyarakat, politik, serta arah dan makna sejarah.

1903: Al Hirschfeld, kartunis Amerika, yang mencatat perjalanan teater Amerika di New York Times selama lebih dari 75 tahun dalam gambar yang riang, cerdas, dan tajam tetapi tidak pernah kejam.

1905: Jean Paul Sartre, filsuf, tokoh sastra, dan kritikus sosial Perancis, paling terkenal sebagai wakil eksistensialisme.

1912: Mary McCarthy, seorang novelis, kritikus, esais, dan penulis cerita pendek yang berada di garis depan kehidupan intelektual Amerika selama lebih dari 40 tahun.

1953: Benazir Bhutto, yang menjadi perdana menteri Pakistan pada tahun 1988, wanita pertama yang memimpin sebuah negara Muslim modern; dia dibunuh pada bulan Desember 2007.

 1961: Ir. H. Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi adalah Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014.


1992: TAWAKKAL BAHARUDDIN

Wajah baru dan kekuasaan Politik di era Digital

rifan
Author: RIFAID S,IP  Email: rifaidip@yahoo.com 

Sampai pada detik ini masih banyak individu secara personal atau masyarakat secara kelompok  yang belum memahami secara jelas apa arti definisi politik yang sebenarnya dan bagaimana politik itu dijalankan dalam aktivitas kehidupan sosial sehari-hari, dan bahkan ada pertanyaan apakah setiap aktivitas manusia adalah bagian dari politk? Atau apakah wilayah politik hanya dibatasi di ruang lingkup kekuasaan pemerintah? Dari pertanyaan-pertanyaan di atas itulah Andrew Heywood mencoba memberikan definisi secara utuh apa yang dimaksud dengan politik.

Heywood dalam Book of Politic memberikan penjelasan definisi politik dalam 4 (empat) pendekatan.  Pertama Politik sebagai seni pemerintahan, politik bukan sains, melainkan seni, seni yang dimaksud seperti yang di ungkap oleh Kanselir Bismarc adalah seni pemerintahan, yaitu penyelenggaraan kontrol di masyarakat melalui pembuatan dan penegakan keputusan bersama.definisi politik dalam pendekatan ini adalah apa yang menyangkut negara, mempelajari politik pada intinya mempelajari pemerintahan, atau lebih luas lagi, mempelajari penyelenggraan kekuasaan, seperti pandangan David Easton mendefinisikan Politik sebagai alokasi nilai secara otoriter, maksudnya adalah bahwa politik mencakup beragam proses melalui pemerintahan yang merespons tekanan dari masyarakat luas, terutama dengan mengalokasikan manfaat, penghargaan atau hukuman. Kedua, politik sebagai urusan publik, sebuah konsepsi yang lebih luas tentang politik membawanya keluar dari lingkup sempit pemerintahan menuju apa yang dipahami sebagai kehidupan publik atau ‘urusan publik’ dengan kata lain pembedaan anatara yang ‘politis’ dan ‘non-politis’ atau antara lingkup kehidupan publik dan apa yang di anggap sebagai lingkup kehidupan privat atau pribadi.

pandangan politik semacam diyakini berasal dari karya filsuf Yunani Aristoteles, Aristoteles pernah menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah hewan yang berpolitik, maksudnya, hanyalah di dalam sebuah masyarakat yang berpolitik umat manusia dapat menjalani kehidupan yang baik. Dari sudut pandang ini politik berarti sebuah aktivitas etis yang berkenaan dengan usaha menciptakan sebuah masyarakat yang adil. Tetapi dalam pembedaan tradisional antara lingkup publik dan dan lingku privat sesuai dengan pembagian antara negara dan masyarakat sipil. Lembaga-lembaga negara(perangkat pemerintahan, pengadilan, POLRI, TNI, sistem keamanan sosial dan sebaginya) dapat dianggap sebagai ‘publik’ dalam pengertian, mereka beratanggung jawab untuk mengatur kehidupan masyarakat. Berbeda dengan itu, masyarakat sipil terdiri dari apa yang dikatakan Edmund burke sebagai ‘pleton kecil’ yaitu lembaga seperti keluarga, perusahaan pribadi atau swasta, serikat pekerja, club, kelompok kemasyarakatan dan sebagainya mereka ini adalah ‘privat’ karena mereka dibentuk dan dibiyai oleh warga secara individu untuk memuaskan kepentingan mereka sendiri daripada kepentingan masyarakat luas.

Berdasarkan pembagian ‘publik/privat’ ini, politik dibatasi pada aktivitas dari negara itu sendiri dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh badan publik. Ketiga, politik sebagai kompromi dan konsensus, konsepsi ketiga dari pandangan ini politik tidak berkenaan dengan arena di mana politik dilaksanakan, tetapi berkenaan dengan cara di mana kepetusan-keputusan dibuat, dimana politik dilihat sebagai sebuah cara memecahkan konflik,  yaitu, dengan kompromi, perdamaian dan negosiasi, daripada melalui kekuatan atau senjata terhunus.  Crick memberikan definisi sebagai berikut, politik adalah aktivitas di mana kepentingan-kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam sebuah unit pemerintahan tertentu, didamaikan dengan memberi bagian dalam kekuasaan sebanding dengan peran mereka bagi kesejahteraan dan kelangsungan hidup seluruh masyarakat.

Dalam pandangan ini kunci dari politik adalah pemabgian kekuasaan. Keempat, politik sebagai kekusaan, definisi keempat dari politik adalah definisi yang paling luas sekaligus paling radikal. Pandangan ini melihat politik berlangsung di semua aktivitas sosial dan di setiap sudut dari eksistensi manuasia dan tidak dibatasi pada ruang lingkup tertentu (pemerintahan, negara, atau lingkup publik). Adrian Leftwich, menyatakan dalam karyanya What is Politics? The activiti and study, politik adalah jantung dari semua aktivitas sosial kolektif, formal maupun informal, publik maupun privat, di semua kelompok, lembaga dan masyarakat manusia.

Dalam pengertian ini politik berlangsung di setiap level interaksi sosial, baik dalam keluarga, kelompok kecil, maupun pada level global. Dalam wujudnya yang lebih luas, politik berkenaan dengan produksi, distribusi dan penggunaan sumber daya dalam kehidupan sosial. Politik, pada dasarnya adalah kekuasaan: kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan, apa pun caranya. Pertanyaan selanjutnya bagaimana wajah baru dan kekusaan politik di era digital saat ini? Perkembangan teknologi yang begitu cepat hingga merasuk di seluruh lini kehidupan sosial masyarakat, ternyata bukan saja mengubah tatanan kehidupan sosial, budaya masyarakat tetapi juga kehidupan politik, dengan begitu canggihnya teknologi yang dikembangkan oleh manusia benar-benar dimanfaatkan oleh para politisi yang ingin mendapatkan simpati, empati dari masyarakat luas, apakah untuk menaikan elektabilitas maupun popularitas, pemanfaatan fasilitas digital seperti salah ssatunya smartphone sekarang dengan di sediakan fitur/aplikasi yang canggih yang berhubung langsung ke jejaring (Facebook, Youtube, Twitter, Whatsaap, line dll) yang mampu menghubungkan antara individu yang satu dengan yang lainnya, anatara satu kelompok dengan kelompok lainnya, antara satu negara dengan negara lain di seluruh dunia memberikan dampak yang besar dalam perpolitikan moderen.

Media baru ini dapat dipandang telah mengubah politik paling tidak dalam tiga cara. Pertama, mekanisme-mekanisme elektronik telah mengubah pelaksanaan pemilihan-pemilihan. Ini terutama terlihat dalam kasus kampanye-kampanye pemilihan, yang semakin berkisar di seputar aktivitas-aktivitas berbasis internet, website-website, e-mail dan podcast menyediakan bagi para kandidat dan partai-partai politik sebuah sarana yang cepat dan murah untuk mengirim pesan mereka kepada audiens, dengan sebuah proses yang juga memungkinkan mereka untuk merekrut para sukarelawan kampanye dan menggalang dana-dana kampanye, penggunaan media digital Smartphone yang tehubung dengan jejaring (fb,twitter,line,Youtube, Whatsaap, Line) sangat efektif terutama dalam menjangkau masyarakat muda, yang sering kali merupakan segmen masyarakat yang paling sulit untuk dilibatkan melalui strategi-strategi konvensioanal, contoh yang paling mudah isu pilgub jakarta. Kedua, media baru ini memberi akses yang yang lebih luas dan mudah pada informasi politik dan komentar politik.

Ketiga media baru ini telah mendukung perkembangan dari gerakan-gerakan politik dan sosial, seperti contoh gerakan-gerakan sosial yang dilakukan oleh revolusi Tunisia yang memanfaatkan Twitter dan facebook, sebagai media penyebaran protes-protes pro-demokrasi. Dan sisi lain dari wajah baru dan kekuasaan politik di era digital ini, di satu sisi dimanfaatkan sebagai alat penyebaran ideologis secara sistematis untuk mencari dukungan dan sekaligus pelembagaan nilai-nilai ideologis itu, dan sisi lain sebagai alat untuk mesin-mesin propoganda, bagaimana para politisi berusaha untuk mempertahankan kekuasaan dengan menampilkan citra baik dan menyembunyikan citra negatif untuk mendapat dukungan dari publik. Dan hal inilah apa yang disebut Heywood media sebagai alat pengontrol pikiran.

Terimakasih

KONFLIK ANTAR MAHASISWA

bentrok

Foto: Suasana Kampus unismuh Makassar yang berujung bentrok dan aksi pembakaran

Fenomena yang terjadi akhir–akhir ini sangatlah memprihatinkan, karena kecenderungan merosotnya moral bangsa hampir terasa di semua strata kehidupan. Krisis moral ini kemudian diikuti dengan menyuburnya pola hidup konsumtif, materialistis, hedonis, dan lain sebagainya yang semuanya menyebabkan tersingkirnya rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial.

Sedangkan untuk kalangan perguruan tinggi, tawuran mahasiswa juga masih terjadi dimana mana. Khususnya di Makassar, tawuran pelajar seakan menjadi rutinitas. Bahkan Makassar terkenal dengan istilah “kota tawuran”. Pasalnya hampir setiap tahunnya terjadi tawuran antar mahasiswa baik lain perguruan tinggi, maupun satu perguruan tinggi tapi beda fakultas dan beda jurusan. Sungguh fakta yang mencerminkan masih buram dan rapuhnya pendidikan di negeri ini.

Hal ini menjelaskan bahwa begitu masih primitifnya cara berfikir kita, Menurut MacLean, Jika kita tidak memiliki kecakapan berpikir, mustahil kita dapat mengendalikan otak yang ada di tengah (otak emosi). Apabila kita tidak dapat mengendalikan otak emosi (tidak mampu merenung atau berefleksi), maka otak emosi ini akan memola cara bersikap kita.

Khusus di kalangan mahasiswa, problem sosial moral ini dicirikan dengan sikap arogansi, saling memfitnah, rendah kepedulian sosial, meningkatnya hubungan seks pra nikah, bahkan merosotnya penghargaan dan rasa hormat terhadap dosen ataupun orangtua sebagai sosok yang seharusnya disegani dan dihormati. Bila dicermati dengan seksama ternyata kejadian sumuanya mengisyaratkan adanya kecenderungan meningkatnya perilaku agresif pada mahasiswa (Aziz dan Mangestuti, 2006).

Kampus yang sejatinya merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan nyatanya menjadi medan pertarungan fisik dan psikis, dimana tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk merangsang manusia agar dapat mengembangkan potensi diri, sehingga dapat didayagunakan dalam kehidupan, baik sebagai mahkluk individu maupun makhluk sosial. Kampus sebagai lembaga formal mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang mencerdaskan kehidupan bangsa,dalam hal ini bukan hanya dalam ranah kognitif saja ,namun juga ranah afektif dan psikomotorik yang mendewasakan mahasiswa melalui proses pendidikan.

Menurut Isre (2003:5-6) konflik sosial biasanya terjadi karena bertemunya empat element utama dalam waktu yang bersamaan. Keempat element itu ialah facilitating contexts (konteks pendukung), core (roots) of conflict (akar konflik), fuse faktor (sumbu), dan triggering factors (pemicu). Keberadaan konteks pendukung ini biasanya tidak serta merta mengakibatkan terjadinya konflik, tetapi berfungsi sebagai tempat berseminya potensi-potensi konflik untuk menunggu saat yang tepat.

 Core of conflict (akar konflik), biasanya adalah suatu tingkat social deprivation (penderitaan sosial) atau marginalisasi sosial yang tidak dapat ditolerir lagi dalam perebutan sumber-sumber daya (resources) maupun kekuasaan (power). Selanjutnya, dikatakan bahwa Fuse factor (sumbu), biasanya juga sudah ada disana, tetapi tidak dengan sendirinya menyala menjadi konflik jika tidak tersulut atau disulut. Sumbu konflik bisa berupa sentimen suku, ras, keagamaan, dll.

Triggering factors (pemicu) adalah peristiwa atau momentum dimana semua element di atas diakumulasikan untuk melahirkan konflik sosial. Momentum itu bisa terjadi hanya berbentuk pertengkaran mulut atau perkelahian kecil antara dua individu mengenai sesuatu hal yang amat remeh atau jauh dari akar konflik, tetapi berfungsi menjadi pembenar bagi dimulainya suatu konflik yang berskala lebih besar. Di kalangan mahasiswa kita dapat melihat, apakah dalam bentuk tindakan, sikap, prilaku, atau argumen yang tidak realistis serta pemicu yang dapat menimbulkan konflik.

Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, konflik dalam kelompok-kelompok mahasiswa dapat saja mengalami perkembangan identitas dan strukturalnya dalam lingkungan kemahasiswaan. Hal ini dapat diakibatkan karena kurangnya solidaritas mahasiswa antar fakultas yang satu dengan yang lain sehingga ada wilayah dan wewenang yang sama-sama mereka perjuangkan tanpa melihat kepentingan bersama. Selain itu tingkat ketegangan sosial yang selama ini dialami oleh mahasiswa sebagai akibat dari padatnya aktivitas perkuliahan yang cenderung tidak di imbangi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menetralisir kondisi ketegangan mahasiswa.

Selama ini sudah jarang kita temui lagi kegiatan-kegiatan seni dan olahraga, diskusi-diskusi anatar jurusan, fakultas dan juga antar universitas yang dapat menciptakan integrasi sosial pada lingkungan kampus terlebih budaya membaca dan juga menulis yang semakin terkikis dengan ditambah ketidakmampuan mahasiswa menerima dengan bijak perkembangan teknologi yang semakin pesat. Sehingga dengan demikian, kondisi ketegangan sosial yang terakumulasi selama ini dapat saja menjadi sumber pemicu konflik antar mahasiswa.

Perbedaan kepentingan (versted interest) dan hilangnya nilai yang menjadi pengikat antara kelompok-kelompok baik kelompok fakultas, organisasi mahasiswa dan program studi tersebut juga menjadi aspek pemicu dan sekaligus menjadi sumber-sumber konflik di kalangan masyarakat ilmiah. Adanya keinginan atau manifestasi bahwa kelompok mereka adalah dominan, berpengaruh dan berkuasa juga dapat berdampak munculnya konflik yang lebih bersifat terbuka.

 Deprivasi relatif yang diartikan sebagai persepsi aktor tentang kesenjangan antara ekspektasi nilai dan kapabilitas nilainya atau pandangan tentang kesenjangan negatif antara ekspektasi atau legitimasi dan aktualitas. Ekspektasi inilah yang dipahami oleh sebagian kelompok mahasiswa yang memberikan rasa unggul dalam dirinya dan fakultasnya atau kelompoknya baik dalam istilah ekonomi, sosial, ataupun basis yang mendasar.

Masyarakat telah memberi gelar mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan). Agen yang diharapkan membuat sebuah perubahan lebih baik menuju kehidupan madani. Sayangnya pelaku perubahan tersebut melakukan tindakan kurang terpuji. Sehingga untuk merasa damai hanya menjadi sebuah cita dalam mewujudkan masyarakat madani.

Mahasiswa seringkali tampak kurang mampu untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri, kurang bisa menghadapi perbedaan pandangan sehingga tidak jarang melakukan tindakan anarkis yang sama sekali tidak memberikan suasana damai seperti merusak fasilitas umum, memblokade jalan, tawuran antar mahasiswa.

Di Makassar, fenomena perilaku agresif mahasiswa seringkali terjadi dan mendapatkan perhatian banyak pihak. Agresi merupakan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan pihak lain, sehingga diperlukan upaya untuk mereduksi dan mengendalikan perilaku agresif pada mahasiswa.

Saran saya, tim pengajar (dosen) serta orang tua harus memberikan pengertian dan penilaian ekstra agar ada kontrol dari keduanya, begitupula mahasiswa harus lebih dekat pada upaya membantu bangsanya dengan belajar dan mengenali tanggungjawabnya sebagai masyarakat ilmiah, tentu dengan gerakan moral sebagai kontrol sosial sebagai perubahan. Mahasiswa harus lebih aktif mengembangkan dirinya dengan kreativitas kelembagaan seperti diskusi ataupun kajian-kajian, tidak terisolasi pada proses pengkaderan yang konservatif semata.

Saran saya dalam penyelesaian konflik di kampus  pertama-tama dibicarakan dulu antar ketua-ketua HMJ (Himpunana Mahasiswa Jurusan) yang terkait atau lembaga yang lebih tinggi dari HMJ secara struktural. Apabila ketua-ketua HMJ tidak dapat menyelesaikan faktor penyebab konflik yang terjadi maka akan di serahkan kepada komisi disiplin universitas dengan mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu. Kemudian apabila terjadi konflik di kampus dengan tingkat yang cukup parah maka pihak civitas kampus hendaknya melibatkan aparat keamanaan. Selain itu untuk mencegah kembali terjadinya konflik pihak universitas hendaknya melarang tegas mahasiswa mengadakan kegiatan-kegiatan malam di kampus dan apabila ada mahasiswa yang kedapatan masih melakukan tindakan amoral yang tidak mencerminkan identitas kemahasiswaanya maka pihak universitas wajib memberi sangsi yang tegas pula.

Tawakkal Baharuddin

Yogyakarta, 26 mei 2016