KONFLIK ANTAR MAHASISWA

bentrok

Foto: Suasana Kampus unismuh Makassar yang berujung bentrok dan aksi pembakaran

Fenomena yang terjadi akhir–akhir ini sangatlah memprihatinkan, karena kecenderungan merosotnya moral bangsa hampir terasa di semua strata kehidupan. Krisis moral ini kemudian diikuti dengan menyuburnya pola hidup konsumtif, materialistis, hedonis, dan lain sebagainya yang semuanya menyebabkan tersingkirnya rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial.

Sedangkan untuk kalangan perguruan tinggi, tawuran mahasiswa juga masih terjadi dimana mana. Khususnya di Makassar, tawuran pelajar seakan menjadi rutinitas. Bahkan Makassar terkenal dengan istilah “kota tawuran”. Pasalnya hampir setiap tahunnya terjadi tawuran antar mahasiswa baik lain perguruan tinggi, maupun satu perguruan tinggi tapi beda fakultas dan beda jurusan. Sungguh fakta yang mencerminkan masih buram dan rapuhnya pendidikan di negeri ini.

Hal ini menjelaskan bahwa begitu masih primitifnya cara berfikir kita, Menurut MacLean, Jika kita tidak memiliki kecakapan berpikir, mustahil kita dapat mengendalikan otak yang ada di tengah (otak emosi). Apabila kita tidak dapat mengendalikan otak emosi (tidak mampu merenung atau berefleksi), maka otak emosi ini akan memola cara bersikap kita.

Khusus di kalangan mahasiswa, problem sosial moral ini dicirikan dengan sikap arogansi, saling memfitnah, rendah kepedulian sosial, meningkatnya hubungan seks pra nikah, bahkan merosotnya penghargaan dan rasa hormat terhadap dosen ataupun orangtua sebagai sosok yang seharusnya disegani dan dihormati. Bila dicermati dengan seksama ternyata kejadian sumuanya mengisyaratkan adanya kecenderungan meningkatnya perilaku agresif pada mahasiswa (Aziz dan Mangestuti, 2006).

Kampus yang sejatinya merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan nyatanya menjadi medan pertarungan fisik dan psikis, dimana tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk merangsang manusia agar dapat mengembangkan potensi diri, sehingga dapat didayagunakan dalam kehidupan, baik sebagai mahkluk individu maupun makhluk sosial. Kampus sebagai lembaga formal mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang mencerdaskan kehidupan bangsa,dalam hal ini bukan hanya dalam ranah kognitif saja ,namun juga ranah afektif dan psikomotorik yang mendewasakan mahasiswa melalui proses pendidikan.

Menurut Isre (2003:5-6) konflik sosial biasanya terjadi karena bertemunya empat element utama dalam waktu yang bersamaan. Keempat element itu ialah facilitating contexts (konteks pendukung), core (roots) of conflict (akar konflik), fuse faktor (sumbu), dan triggering factors (pemicu). Keberadaan konteks pendukung ini biasanya tidak serta merta mengakibatkan terjadinya konflik, tetapi berfungsi sebagai tempat berseminya potensi-potensi konflik untuk menunggu saat yang tepat.

 Core of conflict (akar konflik), biasanya adalah suatu tingkat social deprivation (penderitaan sosial) atau marginalisasi sosial yang tidak dapat ditolerir lagi dalam perebutan sumber-sumber daya (resources) maupun kekuasaan (power). Selanjutnya, dikatakan bahwa Fuse factor (sumbu), biasanya juga sudah ada disana, tetapi tidak dengan sendirinya menyala menjadi konflik jika tidak tersulut atau disulut. Sumbu konflik bisa berupa sentimen suku, ras, keagamaan, dll.

Triggering factors (pemicu) adalah peristiwa atau momentum dimana semua element di atas diakumulasikan untuk melahirkan konflik sosial. Momentum itu bisa terjadi hanya berbentuk pertengkaran mulut atau perkelahian kecil antara dua individu mengenai sesuatu hal yang amat remeh atau jauh dari akar konflik, tetapi berfungsi menjadi pembenar bagi dimulainya suatu konflik yang berskala lebih besar. Di kalangan mahasiswa kita dapat melihat, apakah dalam bentuk tindakan, sikap, prilaku, atau argumen yang tidak realistis serta pemicu yang dapat menimbulkan konflik.

Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, konflik dalam kelompok-kelompok mahasiswa dapat saja mengalami perkembangan identitas dan strukturalnya dalam lingkungan kemahasiswaan. Hal ini dapat diakibatkan karena kurangnya solidaritas mahasiswa antar fakultas yang satu dengan yang lain sehingga ada wilayah dan wewenang yang sama-sama mereka perjuangkan tanpa melihat kepentingan bersama. Selain itu tingkat ketegangan sosial yang selama ini dialami oleh mahasiswa sebagai akibat dari padatnya aktivitas perkuliahan yang cenderung tidak di imbangi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menetralisir kondisi ketegangan mahasiswa.

Selama ini sudah jarang kita temui lagi kegiatan-kegiatan seni dan olahraga, diskusi-diskusi anatar jurusan, fakultas dan juga antar universitas yang dapat menciptakan integrasi sosial pada lingkungan kampus terlebih budaya membaca dan juga menulis yang semakin terkikis dengan ditambah ketidakmampuan mahasiswa menerima dengan bijak perkembangan teknologi yang semakin pesat. Sehingga dengan demikian, kondisi ketegangan sosial yang terakumulasi selama ini dapat saja menjadi sumber pemicu konflik antar mahasiswa.

Perbedaan kepentingan (versted interest) dan hilangnya nilai yang menjadi pengikat antara kelompok-kelompok baik kelompok fakultas, organisasi mahasiswa dan program studi tersebut juga menjadi aspek pemicu dan sekaligus menjadi sumber-sumber konflik di kalangan masyarakat ilmiah. Adanya keinginan atau manifestasi bahwa kelompok mereka adalah dominan, berpengaruh dan berkuasa juga dapat berdampak munculnya konflik yang lebih bersifat terbuka.

 Deprivasi relatif yang diartikan sebagai persepsi aktor tentang kesenjangan antara ekspektasi nilai dan kapabilitas nilainya atau pandangan tentang kesenjangan negatif antara ekspektasi atau legitimasi dan aktualitas. Ekspektasi inilah yang dipahami oleh sebagian kelompok mahasiswa yang memberikan rasa unggul dalam dirinya dan fakultasnya atau kelompoknya baik dalam istilah ekonomi, sosial, ataupun basis yang mendasar.

Masyarakat telah memberi gelar mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan). Agen yang diharapkan membuat sebuah perubahan lebih baik menuju kehidupan madani. Sayangnya pelaku perubahan tersebut melakukan tindakan kurang terpuji. Sehingga untuk merasa damai hanya menjadi sebuah cita dalam mewujudkan masyarakat madani.

Mahasiswa seringkali tampak kurang mampu untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri, kurang bisa menghadapi perbedaan pandangan sehingga tidak jarang melakukan tindakan anarkis yang sama sekali tidak memberikan suasana damai seperti merusak fasilitas umum, memblokade jalan, tawuran antar mahasiswa.

Di Makassar, fenomena perilaku agresif mahasiswa seringkali terjadi dan mendapatkan perhatian banyak pihak. Agresi merupakan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan pihak lain, sehingga diperlukan upaya untuk mereduksi dan mengendalikan perilaku agresif pada mahasiswa.

Saran saya, tim pengajar (dosen) serta orang tua harus memberikan pengertian dan penilaian ekstra agar ada kontrol dari keduanya, begitupula mahasiswa harus lebih dekat pada upaya membantu bangsanya dengan belajar dan mengenali tanggungjawabnya sebagai masyarakat ilmiah, tentu dengan gerakan moral sebagai kontrol sosial sebagai perubahan. Mahasiswa harus lebih aktif mengembangkan dirinya dengan kreativitas kelembagaan seperti diskusi ataupun kajian-kajian, tidak terisolasi pada proses pengkaderan yang konservatif semata.

Saran saya dalam penyelesaian konflik di kampus  pertama-tama dibicarakan dulu antar ketua-ketua HMJ (Himpunana Mahasiswa Jurusan) yang terkait atau lembaga yang lebih tinggi dari HMJ secara struktural. Apabila ketua-ketua HMJ tidak dapat menyelesaikan faktor penyebab konflik yang terjadi maka akan di serahkan kepada komisi disiplin universitas dengan mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu. Kemudian apabila terjadi konflik di kampus dengan tingkat yang cukup parah maka pihak civitas kampus hendaknya melibatkan aparat keamanaan. Selain itu untuk mencegah kembali terjadinya konflik pihak universitas hendaknya melarang tegas mahasiswa mengadakan kegiatan-kegiatan malam di kampus dan apabila ada mahasiswa yang kedapatan masih melakukan tindakan amoral yang tidak mencerminkan identitas kemahasiswaanya maka pihak universitas wajib memberi sangsi yang tegas pula.

Tawakkal Baharuddin

Yogyakarta, 26 mei 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s