Wajah baru dan kekuasaan Politik di era Digital

rifan
Author: RIFAID S,IP  Email: rifaidip@yahoo.com 

Sampai pada detik ini masih banyak individu secara personal atau masyarakat secara kelompok  yang belum memahami secara jelas apa arti definisi politik yang sebenarnya dan bagaimana politik itu dijalankan dalam aktivitas kehidupan sosial sehari-hari, dan bahkan ada pertanyaan apakah setiap aktivitas manusia adalah bagian dari politk? Atau apakah wilayah politik hanya dibatasi di ruang lingkup kekuasaan pemerintah? Dari pertanyaan-pertanyaan di atas itulah Andrew Heywood mencoba memberikan definisi secara utuh apa yang dimaksud dengan politik.

Heywood dalam Book of Politic memberikan penjelasan definisi politik dalam 4 (empat) pendekatan.  Pertama Politik sebagai seni pemerintahan, politik bukan sains, melainkan seni, seni yang dimaksud seperti yang di ungkap oleh Kanselir Bismarc adalah seni pemerintahan, yaitu penyelenggaraan kontrol di masyarakat melalui pembuatan dan penegakan keputusan bersama.definisi politik dalam pendekatan ini adalah apa yang menyangkut negara, mempelajari politik pada intinya mempelajari pemerintahan, atau lebih luas lagi, mempelajari penyelenggraan kekuasaan, seperti pandangan David Easton mendefinisikan Politik sebagai alokasi nilai secara otoriter, maksudnya adalah bahwa politik mencakup beragam proses melalui pemerintahan yang merespons tekanan dari masyarakat luas, terutama dengan mengalokasikan manfaat, penghargaan atau hukuman. Kedua, politik sebagai urusan publik, sebuah konsepsi yang lebih luas tentang politik membawanya keluar dari lingkup sempit pemerintahan menuju apa yang dipahami sebagai kehidupan publik atau ‘urusan publik’ dengan kata lain pembedaan anatara yang ‘politis’ dan ‘non-politis’ atau antara lingkup kehidupan publik dan apa yang di anggap sebagai lingkup kehidupan privat atau pribadi.

pandangan politik semacam diyakini berasal dari karya filsuf Yunani Aristoteles, Aristoteles pernah menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah hewan yang berpolitik, maksudnya, hanyalah di dalam sebuah masyarakat yang berpolitik umat manusia dapat menjalani kehidupan yang baik. Dari sudut pandang ini politik berarti sebuah aktivitas etis yang berkenaan dengan usaha menciptakan sebuah masyarakat yang adil. Tetapi dalam pembedaan tradisional antara lingkup publik dan dan lingku privat sesuai dengan pembagian antara negara dan masyarakat sipil. Lembaga-lembaga negara(perangkat pemerintahan, pengadilan, POLRI, TNI, sistem keamanan sosial dan sebaginya) dapat dianggap sebagai ‘publik’ dalam pengertian, mereka beratanggung jawab untuk mengatur kehidupan masyarakat. Berbeda dengan itu, masyarakat sipil terdiri dari apa yang dikatakan Edmund burke sebagai ‘pleton kecil’ yaitu lembaga seperti keluarga, perusahaan pribadi atau swasta, serikat pekerja, club, kelompok kemasyarakatan dan sebagainya mereka ini adalah ‘privat’ karena mereka dibentuk dan dibiyai oleh warga secara individu untuk memuaskan kepentingan mereka sendiri daripada kepentingan masyarakat luas.

Berdasarkan pembagian ‘publik/privat’ ini, politik dibatasi pada aktivitas dari negara itu sendiri dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh badan publik. Ketiga, politik sebagai kompromi dan konsensus, konsepsi ketiga dari pandangan ini politik tidak berkenaan dengan arena di mana politik dilaksanakan, tetapi berkenaan dengan cara di mana kepetusan-keputusan dibuat, dimana politik dilihat sebagai sebuah cara memecahkan konflik,  yaitu, dengan kompromi, perdamaian dan negosiasi, daripada melalui kekuatan atau senjata terhunus.  Crick memberikan definisi sebagai berikut, politik adalah aktivitas di mana kepentingan-kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam sebuah unit pemerintahan tertentu, didamaikan dengan memberi bagian dalam kekuasaan sebanding dengan peran mereka bagi kesejahteraan dan kelangsungan hidup seluruh masyarakat.

Dalam pandangan ini kunci dari politik adalah pemabgian kekuasaan. Keempat, politik sebagai kekusaan, definisi keempat dari politik adalah definisi yang paling luas sekaligus paling radikal. Pandangan ini melihat politik berlangsung di semua aktivitas sosial dan di setiap sudut dari eksistensi manuasia dan tidak dibatasi pada ruang lingkup tertentu (pemerintahan, negara, atau lingkup publik). Adrian Leftwich, menyatakan dalam karyanya What is Politics? The activiti and study, politik adalah jantung dari semua aktivitas sosial kolektif, formal maupun informal, publik maupun privat, di semua kelompok, lembaga dan masyarakat manusia.

Dalam pengertian ini politik berlangsung di setiap level interaksi sosial, baik dalam keluarga, kelompok kecil, maupun pada level global. Dalam wujudnya yang lebih luas, politik berkenaan dengan produksi, distribusi dan penggunaan sumber daya dalam kehidupan sosial. Politik, pada dasarnya adalah kekuasaan: kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan, apa pun caranya. Pertanyaan selanjutnya bagaimana wajah baru dan kekusaan politik di era digital saat ini? Perkembangan teknologi yang begitu cepat hingga merasuk di seluruh lini kehidupan sosial masyarakat, ternyata bukan saja mengubah tatanan kehidupan sosial, budaya masyarakat tetapi juga kehidupan politik, dengan begitu canggihnya teknologi yang dikembangkan oleh manusia benar-benar dimanfaatkan oleh para politisi yang ingin mendapatkan simpati, empati dari masyarakat luas, apakah untuk menaikan elektabilitas maupun popularitas, pemanfaatan fasilitas digital seperti salah ssatunya smartphone sekarang dengan di sediakan fitur/aplikasi yang canggih yang berhubung langsung ke jejaring (Facebook, Youtube, Twitter, Whatsaap, line dll) yang mampu menghubungkan antara individu yang satu dengan yang lainnya, anatara satu kelompok dengan kelompok lainnya, antara satu negara dengan negara lain di seluruh dunia memberikan dampak yang besar dalam perpolitikan moderen.

Media baru ini dapat dipandang telah mengubah politik paling tidak dalam tiga cara. Pertama, mekanisme-mekanisme elektronik telah mengubah pelaksanaan pemilihan-pemilihan. Ini terutama terlihat dalam kasus kampanye-kampanye pemilihan, yang semakin berkisar di seputar aktivitas-aktivitas berbasis internet, website-website, e-mail dan podcast menyediakan bagi para kandidat dan partai-partai politik sebuah sarana yang cepat dan murah untuk mengirim pesan mereka kepada audiens, dengan sebuah proses yang juga memungkinkan mereka untuk merekrut para sukarelawan kampanye dan menggalang dana-dana kampanye, penggunaan media digital Smartphone yang tehubung dengan jejaring (fb,twitter,line,Youtube, Whatsaap, Line) sangat efektif terutama dalam menjangkau masyarakat muda, yang sering kali merupakan segmen masyarakat yang paling sulit untuk dilibatkan melalui strategi-strategi konvensioanal, contoh yang paling mudah isu pilgub jakarta. Kedua, media baru ini memberi akses yang yang lebih luas dan mudah pada informasi politik dan komentar politik.

Ketiga media baru ini telah mendukung perkembangan dari gerakan-gerakan politik dan sosial, seperti contoh gerakan-gerakan sosial yang dilakukan oleh revolusi Tunisia yang memanfaatkan Twitter dan facebook, sebagai media penyebaran protes-protes pro-demokrasi. Dan sisi lain dari wajah baru dan kekuasaan politik di era digital ini, di satu sisi dimanfaatkan sebagai alat penyebaran ideologis secara sistematis untuk mencari dukungan dan sekaligus pelembagaan nilai-nilai ideologis itu, dan sisi lain sebagai alat untuk mesin-mesin propoganda, bagaimana para politisi berusaha untuk mempertahankan kekuasaan dengan menampilkan citra baik dan menyembunyikan citra negatif untuk mendapat dukungan dari publik. Dan hal inilah apa yang disebut Heywood media sebagai alat pengontrol pikiran.

Terimakasih

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s