Kukenali pemuda itu

           sumpah-pemuda

           Banyak harapan yang selalu hadir pada diri seorang pemuda, pemuda adalah penerus masa depan yang sudah terlatih dimasa silam, selalu ada duka dan bahagia yang menjadi cerita indah disetiap titik mereka menghela nafas lalu kemudian berhenti di satu titik lalu kembali mengingat impian untuk masa depannya. Begitulah laku seorang pemuda, akan ada saja yang dia ingat dimasa depannya tentang titik dimana mereka dulu pernah beristirahat sejenak dan kembali mengukur hari yang esok.

      Saya melihat pemuda menjelma sebagai pioner-pioner yang selalu bergerak dan bertahan lalu kemudian bergerak, ada kehendak untuk tetap bertahan hidup hanya semata-mata ingin tetap disebut manusia, karena sesungguhnya kehidupan mereka adalah investasi untuk keluarga, Negara dan dirinya sendiri.

            Rasa-rasanya terlalu rumit untuk kita berangan-angan untuk masa depan yang baik tanpa kehadiran seorang pemuda yang hadir dengan fikiran konstruktifnya, tak ada yang salah memang ketika kita biasa mendengar bahwa ditangan pemudalah bangsa ini tetap ada dan berbenah.

            Tapi seberapapun dan bagaimanapun kita mengiidolakan seorang pemuda tetap saja harus melihat realitas kekinian di negeri ini, tak jarang anak muda tergeletak di pinggiran jalan tanpa sedikitpun nafas, mungkin karena kelelahan mencari sesuap nasi­ untuk hidup esok harinya atau “keluarganya” sendirilah yang sadar atau tidak sadar telah mencuri haknya untuk hidup, Negara terkadang menjadi momok menakutkan untuk anak muda agar tetap hidup lama di negaranya sendiri, lihatlah lapangan pekerjaan yang terisolasi oleh kepentingan, banyaknya cikal bakal pemuda “dilarang” bersekolah oleh “sekitarnya”. Tak apa lagi jika menjenguk pemuda-pemuda yang ada di nusa kambangan sana.

               Gejolak inilah yang mestinya menjadi perhatian kita semua, terkhusus bagi orang-orang yang pernah disapa pemuda dizamannya. Sayangnya jarang kita lihat yang masih menyimpan hasrat untuk berbenah dan bertanggungjawab. Mereka pikir ini guyonan bahwa mereka sudah terlampau berusaha tapi nyatanya duduk diam diri saja. Kita perlu nasihat dan petuah dari siapa-siapa saja yang masih ada.

         Pemerintah yang acuh mengakui para pemuda menjadi asset ibu pertiwi telah menjadi sebuah ritual untuk melanggengkan pemerintah tanpa estapet. Amatilah berita di televisi, Koran, dan media informasi lainnya bagaimana pemuda hilang harapan dimana-mana, tatkala cita-cita dibenturkan pada kehendak pemerintah yang dzolim.

           Kenapa harus menuduh pemerintah itu dzolim? Lihatlah kemiskinan,lapangan pekerjaan, kebutuhan untuk tahu melaluai pendidikan yang layak, apakah kesemuanya berlebihan untuk sebuah alasan, begitulah kenapa pemuda harus berhenti di satu titik dan  beristirahat hanya untuk kembali mengukur cita-citanya dimasa yang akan datang, karena mereka sadar pemuda sebelumnya terlampau banyak yang acuh karena kehendak dzolim dari pemerintah yang mengabaikan harapan dan peluang dari mereka untuk hidup lebih baik, bekerja dengan sepantasnya untuk rezeki, belajar matimatika dikelas dengan guru terbaik.

            Meskipun tidak semua pemangku kebijakan itu dzolim kepada mereka, karena masih ada sedikit yang rela mati-matian menghargai dan sadar akan pentingnya seorang anak muda/ pemuda.

25 juli 2016, Luwu Utara

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s