Seni Hidup Dari Seorang Pianist

szpilman_am_piano1948
Foto: Wladyslaw Spilzman

Penulis akan menceritakan kembali bagian dari kehidupan seorang Wladyslaw Spilzman dimasa invasi Nazi Jerman ke Polandia.  Wladyslaw Spilzman adalah seorang pianist Yahudi Polandia. Dimasa ini kaum Yahudi mengalami tekanan yang luar biasa. Spilzman bersama keluarganya sangat dibatasi dalam melakukan aktivitas-aktivitas diluar rumah, dibatasi memiliki sejumlah uang dan makanan.

 

Wladyslaw Spilzman dikonsentrasikan ketempat – tempat terpencil, dengan dalih untuk menghindari peperangan. Tetapi hal ini merupakan upaya penyaringan tentara Nazi terhadap kaum Yahudi. Spilzman diharuskan  bertahan  hidup sendiri dengan menjalani kerja paksa bersama kaum Yahudi lainnya. Teror, kekejaman, kelaparan dan kematian terjadi dimana –mana. Saat itualah Spilzman berpisah dengan keluarganya. Beruntung Spilzman bertemu temannya sesama seniman (seniman yang berkebangsaan Jerman) yang akhirnya membantu Spilzman untuk bersembunyi dari kejaran tentara Nazi.

Dalam persembunyian ini Spilzman hampir mengalami kematian karena sakit dan kelaparan. Sampai akhirnya Spilzman harus bertahan hidup sendiri karena tidak ada lagi orang yang melindungi hidupnya, karena teman musisinyanya tersebut juga harus mengungsi untuk melindungi anaknya dari peperangan. Spilzman keluar dari persembunyiannya, berpindah-pindah dari satu bangunan ke bangunan lain untuk mencari sisa-sisa makanan. Rasa kesepian dan kehilangan sangat di rasakan Spilzman saat itu.

Spilzman beruntung hidupnya diselamatkan seorang perwira Jerman yaitu Kapten Wilm Hosenfeld. Kapten Wilm Hosenfeld menemukan Spilzman dalam persembunyiannya dibalik reruntuhan gedung. Spilzman kemudian diinterogasi, dalam interogasi tersebut Spilzman mengaku bahwa dirinya adalah seorang yahudi yang sedang bersembunyi. Kapten  Wilm Hosenfield lalu menanyakan profesi dari Spilzman tersebut. Spilzman menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang pianist (pemain alat musik piano). Kapten Hosenfield tidak percaya begitu saja, lalu dimintalah Spilzman memainkan sebuah lagu menggunakan alat musik piano. Spilzman yang ketakutan akhirnya memainkan sebuah piano, sedangkan kapten Hosenfield mendengar permainan piano dari Spilzman dengan terdiam sembari membenarkan posisi duduknya. Kapten Hosenfield menikmati bunyi hasil dari permainan irama yang dimainkan oleh Spilzman lewat sebuah piano.

Dari kisah pertemuan antara Kapten Hosenfield dengan Spilzman tersebut, membuat Kapten Hosenfield membiarkan Spilzman tetap aman bersembunyi dan juga tetap hidup.  Kemampuan Spilzman dalam memaminkan alat musik piano akhirnya mampu menggugah hati sang kapten Hosenfield. Tiap harinya Spilzman diberikan makan secara sembunyi oleh kapten Hosenfield. Hingga pada akhirnya Tentara Jerman mengundurkan diri karena daerah Polandia saat itu telah dikuasai oleh Tentara Soviet (Rusia). Hadirnya tentara Soviet tesebut menandai akhir dari peperangan antara Nazi dan Yahudi di wilayah Polandia. Hal ini menjadi kabar bahagia bagi seorang pianist.

Dari penggalan cerita dari seorang Spilzman yang merupakan seorang pianist yang pandai memainkan sebuah alat musik dengan nada-nada indahnya, akhirnya mampu menjadi penyelamat hidupnya dari sebuah peristiwa tragis bernama kematian. Kemampuan seorang kapten Hosenfield mengenali sebuah keindahan hasil dari seni musik seperti piano adalah cerita kelanjutan hidup seorang pianist ternama yang cukup melegenda bernama Wladyslaw Spilzman.

Seni membuat Spilzman tetap hidup sedangkan kapten Hosenfield merupakan seseorang yang mampu melihat musik itu seketika menjadi hidup dan nyata. Dalam kisah ini mengajarkan kita kembali bahwa tiap individu diharuskan mampu survive (mempertahankan hidup). Hidup adalah sebuah politik, sedangkan dari kesemuanya adalah merupakan seni. Hidup dan politik adalah sebuah seni. Memilih untuk tetap hidup adalah merupakan sebuah seni.

Seni tidak hanya sekedar abstraksi dari tiap-tiap pensil, kuas dan cat atau bahkan seni tidak hanya sekedar bunyi atau gerak abstraksi semata. Semua seniman ingin melihat suatu abstrak menjadi hidup. Bisa dirasakan bagi setiap manusia lainnya. Individu yang satu diharuskan mampu memiliki hidup yang baik, sedangkan pada waktu yang bersamaan, Individu tersebut diharuskan mampu memahami kehidupan manusia lainnya.

Catatan: Tulisan ini merupakan hasil resume penulis setelah menonton film “The Pianist Tahun 2002”.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s